Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Agustus, 2018

Jarak Si Jari Manis

Bagaimana caranya bila setiap yang kamu fikirkan terus menjadi alasan bagimu untuk tidak mengerti. Dan tulisan ini saat kamu baca adalah alat tanpa tujuan yang mana hanya singkronasi otak dan jari bukan hati. Bicara soal kemanusiaan, jalanan, olahraga, melampaui batas dan keinginan. Hal hal bodoh yang selalu dilakukan, semua hanya akan pergi ke entah berantah. Dimana tak semua pun diketahui makna dari perjalanan. Manusia bercengkrama soal pilihan dan keikutsertaan hati atas segala rutinitas. Seolah olah semua akan berdecak kagum atas semua harapan dan pengharapan. Seolah olah penambahan ejaan dan retorika akan menjadi hebat ditelinga. Banyak kepribadian yang akan muncul dan sikap atas pemaksaan alam. Menuntut layaknya jaksa dalam pengadilan tanpa kompromi. Terbentuk seperti dalam cetakan yang berjejer. Dan kamu tau semua akan terjual diatas meja. Harga relatif tak jadi masalah ketika otak sehat atas materi. Jika kembali pada ketidaktahuan dan menerka nerka sepertinya tak mampu memeca...

Aku, Mereka, dan Ceritanya

Aku (Baca) = Bukan Aku Mereka terlalu banyak bercerita seakan akan telah study master bahkan doktor dan profesor hanya untuk menyimpulkan apa yang ada pada diriku. Hanya untuk membuat mereka terlihat benar, terlihat bagus atau mereka terlihat sedikit hebat dan berada diatasku. Mengenal dan bahkan menganggap 1, 2, 3 tahun cukup membuat ikatan yang sangat dekat antara mereka denganku. Bukan tentang bagaimana cara menciptakan hubungan yang hebat dan aku akan mendongeng atas jalanku pada mereka berdasar itu. Dialektika ku cukup untuk mereka pahami, dengan 1 jam kurasa mereka mampu paham atas berdirinya ku hingga seumur ini. Tak ada larangan atas mereka berbicara tentangku sebenarnya. Hanya saja kebenaranku pada dasarnya tidak ada atas apa yang mereka katakan. 29/6/2018

Sebenarnya inginku tak begitu

Sebenarnya aku tak suka menulis tentang apa yang aku rasakan, aku lebih suka berada diantara mereka untuk melihat mereka, mendengar mereka dan ikut pada mereka. Daripadanya aku mentransformasikan setiap detik waktu mereka pada bait bait yang kupunya. Daripadanya juga aku mendeliver setiap tangan tangan penuh harapan. Daripadanya juga aku melukis basah tiap keringat yang menetes. Lain pada malam ini kurasa, tidak ada bait, tangan, bahkan keringat yang kupunya. Hanya pada semua-muanya. Segila-gilanya, sebingung bingungnya. Bersandar pada seat kereta Bogor-Jakarta kota yang mungkin sekitar 70-80 derjat sudutnya. Merebahkan setiap penat dan mengistirahatkan setiap rindu. Dengan jemari bergadget ria entah sedang mengapa dan apa maunya. Depok-Jakarta 4/7/2018

Untuk kalian dariku yang entah ada diruang mana pada hati kalian.

Aku bermimpi masuk ke dalam sebuah wahana dunia mainan, dimana aku bertemu banyak sekali permainan. Satu persatu wahana aku coba tanpa ada yang terlupa. Berjam jam aku habisi bahkan mengabaikan waktu yang di anugrahkan tuhan padaku hanya untuk bermain dengan wahana tersebut. Aku terjatuh bangkit namun selalu bermain karena semua wahana tak pernah berhenti menemaniku bermain. Semua terasa begitu menyenangkan, dan sangat mengasikan. Basah kering menyatu bersama baju saat aku bermain. Sampai aku merasa bahwa permainam itu mulai membosankan. Aku mulai muak, dengan kekesalan yang sejadi jadinya, dan se gila gilanya. Bukan karena benar benar permainan yang membuatku bosan, hanya saja.. aku menemukan kesemuan dalam imajinasiku. Aku seakan tak bisa lepas bermain. Aku tahu tuhan berkata lewat imajinasiku Mendeliver setiap isi hati meski semua punya ruang. Wahana bermainku penuh sesak dengan harapan. Sampai aku sadar bahwa mimpiku berakhir. Namun harapan ku terus mengangkasa bersama gelak tawa. ...